MAKALAH
ILMU SOSIAL DASAR
Disusun
oleh:
Vina Isma Diana Putri
1TA07
KATA PENGANTAR
Segala
puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Pemurah, karena berkat
kemurahanNya makalah ini dapat saya selesaikan. Makalah ini disusun agar kita
dapat memperluas wawasan kita tentang Ilmu Sosial Dasar. Khususnya tentang
pembahasan yang bertemakan “Prasangka. Diskriminasi dan Etnosentris terhadap
konflik di Indonesia”
Makalah ini dibuat dalam rangka pembelajaran mata kuliah
Ilmu sosial Dasar (softskil). Pemahaman tentang
penduduk, masyarakat dan kebudayaan serta hal – hal yang berkaitan dengannya
sangat diperlukan, dengan suatu harapan suatu masalah dapat diselesaikan dan
dihindari kelak, sekaligus menambah wawasan bagi kita semua.
Makalah
ini, tentunya masih jauh dari kesempurnaan, karena penulis juga masih
dalam tahap pembelajaran. Oleh karena itu arahan, koreksi dan saran, sangat
penulis harapkan. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas
kepada pembaca.
Depok,
24 November 2015
Vina
Isma Diana Putri
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Menghubungkan antara individu-individu maupun
antara kelompok dan golongan. Hidup bermasyarakat juga berarti kehidupan
dinamis dimana setiap anggota satu dan lainnya harus saling memberi dan menerima.
Anggota memberi karena ia patut untuk memberi dan anggota penerima karena ia
patut untu menerima. Ikatan berupa norma serta nilai-nilai yang telah dibuatnya
bersama diantara para anggotanya menjadikan alat pengontrol agar para anggota
masyarakat tidak terlepas dari rel ketentuan yang telah disepakati itu.
Rasa solider, toleransi, tenggang rasa, tepa selira
sebagai bukti kuatnya ikatan itu. Paa diri setiap anggota terkandung makna
adanya saling ikut merasakan dan saling bertanggungjawab pada setiap sikap
tindak baik megnarah kepada yang hang positif maupun negative. Sakit anggota
masyarakat satu akan dirasakan oleh anggota lainnya. Tetapi disamping adanya
suatu harmonisasi, disisi lain keadaan akan menjadi sebaliknya. Bukan
harmonisasi ditemukan, tetapi disharmonisasi. Bukan keadaan organisasi tetapi
disorganisasi.
Perbedaan kepentingan
sebenarnya merupakan sifat naluriah disamping adanya persamaan kepentingan.
Bila perbedaan kepentingan itu terjadi pada kelompok-kelompok tertentu,
misalnya pada kelompok etnis, kelompok agama, kelompok ideology tertentu
termasuk antara mayoritas dan minoritas.
BAB
II
PEMBAHASAN
Prasangka
dan Diskriminasi
Prasangka
atau prejudice berasal dari kata latian prejudicium, yang pengertiannya
sekarang mengalami perkembangan sebagia berikut :
- semula diartikan sebagai suatu presenden, artinya keputusan diambil atas dasar pengalaman yang lalu
- dalam bahas Inggris mengandung arti pengambilan keputusan tanpa penelitian dan pertimbangan yagn cermat, tergesa-gesa atau tidak matang
- untuk mengatakan prasangka dipersyaratkan pelibatan unsur-unsur emosilan (suka atau tidak suka) dalam keputusan yang telah diambil tersebut
Prasangka menunjukkan
pada aspek sikap sedangkan diskriminasi pada tindakan. Menurut Morgan (1966)
sikap adalah kecenderungan untuk merespon baik secara positif atau negarif
terhadap orang, obyek atau situasi. Sikap seseorang baru diketahui setelah ia
bertindak atau beringkah laku. Oleh karena itu bisa saja bahwa sikap
bertentangan dengan tingkah laku atau tindakan. Jadi prasangka merupakan
kecenderungan yang tidak nampak, dan sebagai tindak lanjutnya timbul tindakan,
aksi yang sifatnya realistis. Dengan demikian diskriminatif merupakan tindakan
yang relaistis, sedangkan prsangka tidak realistis dan hanya diketahui oleh diri
individu masing-masing.
Sebab-sebab
timbulnya prasangka dan diskriminasi :
- berlatar belakang sejarah
- dilatar-belakangi oleh perkembangan sosio-kultural dan situasional
- bersumber dari factor kepribadian
- berlatang belakang perbedaan keyakinan, kepercayaan dan agama
Usaha-usaha
mengurangi/menghilangkan prasangka dan diskriminai
- Perbaikan kondisi sosial ekonomi
- Perluasan kesempatan belajar
- Sikap terbuka dan sikap lapang
Etnosentrisme
yaitu suatu kecenderungan yang menganggap nilai-nilai dan norma-norma kebudayaannya
sendiri sebagaai sesuatu yang prima, terbaik, mutlak dan diepergunakan sebagai
tolok ukur untuk menilai dan membedakannya dengan kebudayaan lain.
Etnosentrisme merupakan kecenderungan tak sadar untuk menginterpretasikan atau
menilai kelompok lain dengan tolok ukur kebudayaannya sendiri. Sikap
etnosentrisme dalam tingkah laku berkomunikasi nampak canggung, tidak luwes.
Meski Indonesia telah 68 tahun merdeka dan era reformasi
telah terlewati tetapi teap saja masih ada kesus-kasus diskriminasi terjadi.
Diskirminasi atau kekerasan yang terjadi dilatarbelakangi oleh beberapa hal
seperti agama, suku atau ras, jender, tingkat sosial dalam masyarakat, dan
lain-lain.
Dari banyaknya kasus diskriminasi yang terjadi, dsikriminasi
yang paling sering terjadi yaitu dengan latar belakang agama seperti kasus
diskriminasi di Ambon, Maluku. Konflik Maluku menjadi kasus diskriminasi yang
berlatar belakang agama dengan korban meninggal 8.000 sampai 9000 orang. 29.00
rumah, 45 masjid, 47 gereja, 719 toko, 38 gedung kebakaran. Kasus ini
berlangsung selama 4 tahun berturut-turut.
Selain Maluku, kasus diskriminasi di Sampit juga tak kalah
luar biasa. Diskriminasi di Samipit ini dilatarbelakangi oleh kasus etnis.
Yaitu antara etnis Dayak dan Madura dengan rentan waktu 10 hari. Jumlah koban
meninggal 469 orang meninggal dunia dan 108.000 mengungsi.
BAB
III
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
Prasangka menunjukkan
pada aspek sikap sedangkan diskriminasi pada tindakan. Menurut Morgan (1966)
sikap adalah kecenderungan untuk merespon baik secara positif atau negarif
terhadap orang, obyek atau situasi. Sikap seseorang baru diketahui setelah ia
bertindak atau beringkah laku. Oleh karena itu bisa saja bahwa sikap
bertentangan dengan tingkah laku atau tindakan.
Etnosentrisme
merupakan kecenderungan tak sadar untuk menginterpretasikan atau menilai
kelompok lain dengan tolok ukur kebudayaannya sendiri. Sikap etnosentrisme
dalam tingkah laku berkomunikasi nampak canggung, tidak luwes.
B. Saran
Kasus diskriminasi
menjadi hal yang penting, jika Indonesia ini saling bersatu pastinya dalam
perkembangan untuk negara pun akan menjadi lebih baik. Untuk menjadikan
diskriminasi ini berkurang memang harus didasari dari diri sendiri, pola
pemikiran masing-masing masyarakatnya. Tidak lepas dari tergantung diri sendiri
tentu pemerintah harus membantu mendorong dengan tidak acuh soal hal ini. Lebih
menindak lanjuti kasus-kasus diskriminasi yang terjadi. Tidak bersikap kaku
dalam arti banyak sekali birokrasi dan syarat dalam penanganannya.
DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar