Sabtu, 08 November 2014

makalah ISD peran keluarga dalam membangun manusia berkarater


ILMU SOSIAL DASAR
PERAN KELUARGA DALAM MEMBANGUN MANUSIA YANG BERKARAKTER





Nama    : Vina Isma Diana P
Kelas    : 1TA03



KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha  Esa, atas petunjuk dan bimbingan hidayah-Nya, makalah ini dapat saya selesaikan pada waktunya.
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Ilmu Sosial Dasar.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak terkait yang telah membantu saya dalam menghadapi berbagai tantangan dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan dan penyempurnaan lebih lanjut.
Meskipun ini sifatnya hanya sederhana, semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca umumnya dan bagi penulis khususnya.



Jakarta, 06 November 2014


Vina Isma Diana P





Daftar Isi
Kata Pengantar…………………………………………………………………………………..     i
Daftar isi………………………………………………………………………............…………..   ii
BAB I PENDAHULUAN
         A.    Latar Belakang…………………………………………………………………................….. 1
         B.     Rumusan Masalah…………………………………………………………………................. 1
BAB II PEMBAHASAN
         A.    Pertumbuhan Anak………………………………………………………………...............… 2
         B.     Peran orang tua dalam mendidik anak……………………………………………................... 2
         C.     Pengaruh keluarga terhadap perkembangan moral anak…………………………..................... 3
         D.    Peran keluarga…………………………………………………………………….................. 4 
         E.     Penerapan Pendidikan Agama Islam dalam Membangun Karakter Anak……………………..............................5

BAB III PENUTUP
  A.    Kesimpulan………………………………………………………………….......................… 7

Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………..… 8










BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Anak merupakan kunci utama dalam menentukan kemajuan suatu bangsa dimasa depan. Oleh karena itu keluarga merupakan hal utama dalam menentukan dan mendukung kemajuan anak dimasa depan yang berkarakter dan memiliki kepribadian baik.
Keluarga adalah lingkungan yang pertama dan utama dikenal oleh anak. Oleh karena itu tidaklah dapat dipungkiri bahwa sebenarnya keluarga mempunyai fungsi yang tidak hanya terbatas sebagai penerus keturunan saja. Mengingat banyak hal-hal mengenai kepribadian seseorang yang dapat dirunut dari keluarga.
Pengaruh globalisasi yang semakin meluas menyebabkan manusia kehilangan jati dirinya. Arus globalisasi yang tak terkendali menyebabkan dampak buruk yang harus ditelan oleh mentah-mentah oleh anak-anak. Seperti halnya kekerasan, minuman keras, dll. Hal inilah yang harus menjadi tanggung jawab keluarga untuk membimbing dan mengembalikan anak-anaknya kejalan yang semestinya.

B.    Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang dibahas dalam makalah ini sebagai berikut.
          1.      Apa saja yang berhubungan dengan seorang anak?
          2.      Bagaimana peran keluarga dalam mendidik anak?
          3.      Apakah pengaruh keluarga terhadap perkembangan anak?





BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pertumbuhan Anak
Sejak dilahirkan ke dunia setelah bersemayam dalam kandungan selama 9 bulan 10 hari, anak memliki ciri khusus yang membedakan dari orang dewasa, yakni terus tumbuh dan berkembang (Sunartini, 2001: 1). Tumbuh kembang anak sebenarnya sudah dimulai sejak pembuahan (konsepsi) sampai anak dewasa (kira-kira umur 21 tahun). Jadi tumbuh kembang ini merupakan suatu proses yang panjang dari satu sel menjadi berjuta sel manusia.
Pertumbuhan dan perkembangan anak secara prinsip dapat dibagi dalam 4 periode, yaitu masa balita, pra sekolah, masa pertengahan kanak-kanak dan masa renaja. (Herini Sarminto, 2004: 1).

Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita, karena pada masa ini terjadi pertumnuhan dan perkembangan dasar yang akan memperngaruhi perkembangan selanjutnya. Pertumbuhan anak ditunjukkan dengan bertambahnya tinggi dan berat badan, lingkar kepala, lingkar lengan atas, lingkar dada, dan sebagainya. Pertumbuhan anak ditunjukkan dengan faktor gizi dan nutrisi. Sementara perkembangan anak ditunjukkan dengan perkembangan psikomotor, perkembangan mental dan intelektual, perkembangan sosial, kemampuan komunikasi, perilaku dan perkembangan seksual. Perkembangan anak ini akan dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan (Hibana S. Rahman, 2002 :37).

2.      Peran orang tua dalam mendidik anak
Anak adalah individu yang unik. Banyak yang menagatkan bahwa anak adalah miniatur dari orang dewasa. Padahal mereka betulbetul unik. Mereka belum banyak memiliki sejarah masa lal. Pengalaman mereka sangat terbatas.
Di sinilah peran orang tua yang memiliki pengalaman hidup lebih banyak sangat dibutuhkan membimbing dan mendidik anaknya. Apabila dikaitkan dengan hak-hak anak, menurut Sri Sugiharti (2005 :1) tugas dan tanggung jawab orang tua antara lain :
1. Sejak dilahirkan mengasuh dengan kasih sayang.
2. Memelihara kesehatan anak.
3. Memberi alat-alat permainan dan kesempatan bermain.
4. Menyekolahkan anak sesuia dengan keinginan anak.
5. Memberikan pendidikan dalam keluarga, sopan santun, sosial, mental dan juga pendidikan keagamaan serta melindungi tindak kekerasan dari luar.
6. Memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan dan berpendapat sesuai dengan usia anak.
          Atas dasar itu orang tua yang bijaksana ankan mengajak anak sejak dini untuk berinteraksi denagn lingkungan sekitar. Saat itulah pendidikan karakter diberikan. Mengenal anak akan perbedaan di selilingnya dan diliatkan dalam tanggung jawab hidup sehari-hari, merupakan sarana anak untuk belajar menghargai perbedaan di sekelilingnya dan mengembangkan karakter di tengah berkembangnya masyarakat. Pada tahap ini orang tua dapat mengajarkan niali-nilai universal seperti cara menghargai orang lain, berbuat adil pada diri sendiri dan orang lain, bersedia memanfaatkan orang lain.
           Bapak ibu sebagai orang tua anak, adalah contph keteladanan dan perilaku bagi anak. Oleh karena itu orang tua harus berperilaku baik, saling asih, asah dan asuh. Ibu yang secara emosional dan kejiwaan lebih dekat dengan anaknya harus mampu menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya baik dalam bertutur kata, bersikap maupun bertindak. Peran ibu dalam pembentukan karakter ini demikian besar, sehingga ada pepatah yang mengatakan bahwa “Wanita adalah tiang negara. Manakala wanitanya baik maka baiklah negara. Manakala wanitanya rusak, maka rusaklah negara”.
          Sementara itu sang bapak sebagai kepala keluarga juga harus mampu menajdi teladan yang baik. Karena ayah yang terlibat hubungan dengan anaknya sejak awal akan mempengaruhi perkembangan kognitif, motorik, kemampuan, menolong diri sendiri, bahkan meningkatkan kemampuan yang lebih baik dari anak lain. Kedekatan dengan ayah tentunya juga akan mempengaruhi pembentukan karakter anak.
           Begitu besarnya peran orang tua dalam pembentukan karakter dan tumbuh kembang anak, sudah sewajarnya apabila orang tua perlu menerapkan pola asuh yang seimbang (authoritative) pada anak, bukan pola asuh yang otoriter atau serba membolehkan (permissive).


3.       Pengaruh Keluarga Terhadap Perkembangan Moral Anak
Papalia dan Old (1987) dalam Hawadi (2001) membagi masa kanak-kanak dalam lima tahap :
  1. Masa Prenatal, yaitu diawali dari masa konsepsi sampai masa lahir.
  2. Masa Bayi dan Tatih, yaitu saat usia 18 bulan pertama kehidupan merupakan masa bayi, di atas usia 18 bulan pertama kehidupan merupakan masa bayi, di atas usia 18 bulan sampai tiga tahun merupakan masa tatih. Saat tatih inilah, anak-anak menuju pada penguasaan bahasa dan motorik serta kemandirian.
  3. Masa kanak-kanak pertama, yaitu rentang usia 3-6 tahun, masa ini dikenal juga dengan masa prasekolah.
  4. Masa kanak-kanak kedua, yaitu usia 6-12 tahun, dikenal pula sebagai masa sekolah. Anak-anak telah mampu menerima pendidikan formal dan menyerap berbagai hal yang ada di lingkungannya.
  5. Masa remaja, yaitu rentang usia 12-18 tahun. Saat anak mencari identitas dirinya dan banyak menghabiskan waktunya dengan teman sebayanya serta berupaya lepas dari kungkungan orang tua.
Anak-anak sering bertanya tentang banyak hal, baik yang berhubungan dengan hal-hal yang faktual maupun yang fiktif. Pertanyaan-pertanyaan ini, bagi anak-anak, merupakan ekspresi dari rasa ingin tahu dan menyibak keraguannya, sehingga anak tersebut terdorong untuk mengajukan pertanyaan. Hal ini merupakan kebutuhan psikis alamiah yang dinamakan dengan istilah “cinta meneliti.”(Zurayk, 1997).
Penanaman moral pada diri seorang anak berawal dari lingkungan keluarga. Pengaruh keluarga dalam penempaan karakter anak sangalah besar. Dalam sebuah keluarga, seorang anak diasuh, diajarkan bebagai macam hal, diberi pendidikan mengenai budi pekerti serta budaya. Setiap orang tua yang memiliki anak tentunya ingin anaknya tumbuh dan berkembang menjadi manusia cerdas yang memiliki budi pekerti baik agar dapat menjaga nama baik keluarga.
Anak bukan lah orang dewasa, ia memiliki sifat-sifat yang khas. Seorang anak melihat, mendengar, berperasaan, dan berpikir dengan bentuk yang khas, namun tidak keluar dari logika dan perasaan yang sehat. Misalnya, anak-anak itu melihat, mendengar, dan berperasaan sebagaimana orang tua melihat, mendengar, berperasaan, dan berpikir. Karena itu, orang tua seharusnya mempergauli anak-anak berdasarkan pada anggapan bahwa dia adalah anak-anak. Sebagaimana dikatakan, “Pemuda tidak akan menjadi pemuda yang sebenarnya selama masa kanak-kanaknya tidak menjadi anak-anak yang sebenarnya”.
Keluarga memberikan pengaruh pada pembentukan budi luhur bagi seorang anak. Salah satu ciri anak yang berbudi luhur adalah selalu menunjukkan sikap sopan dan hormatnya pada orang tua. Budi luhur yang melekat pada setiap orang bukan datang dengan sendirinya, melainkan harus diciptakan. Terutama dalam keluarga dan bukan merupakan keturunan. Dengan kata lain, budi luhur tidak merupakan keturunan melainkan merupakan produk pendidikan dalam keluarga, merupakan perpaduan antara akal. Kehendak, dan rasa.
Pada masa sekarang, intensitas bertemu antara anak dengan orang tua sangatlah sempit. Oleh karena itu, orang tua harus mampu membagi waktu dengan baik dan mencari saat-saat yang tepat untuk menyelipkan pelajaran mengenai budi pekerti luhur. Pada saat makan malam misalnya, atau pada saat menonton televisi bersama, sambil membimbing.
4.      Peran keluarga
Peran orang tua sangat lah pentinng dalam membentuk kepribadian seorang anak, karena dari didikan orangtua lah yang membuat kita bisa menjadi seperti ini. Orang tua juga sangatlah penting dalam membentuk pondasi dari kepribadian seorang anak, saya sebagai seorang anak pun sangatlah merasakan peranan dari orang tuadalam membentuk kepribadian diri saya, apa saja yang saya lakukan baik sikap maupun kepribadian saya, sedikit banyak mengikuti sifat dari orangtua saya, terutama hal yang sangat mereka tekankanpada saya, sejak saya kecil hingga sekarang ini.

Sejak kecil, orang tua saya sudah menanamkan nilai-nilai moral, keagamaan, tata krama, sopan santun, dan lain-lain. Di dalam materi kali ini saya akan menceritakan beberapa hal  peranan orang tua yang saya rasakan selama ini.
Peran orangtua untuk mengajarkan keagamaan, mungkin inilah yang sangat penting yang di tekankan oleh orang tua saya, karena kedua orang tua saya penganut agama islam, jadi erat bersandar pada al-quran dan sunnah rasulullah. Segala sesuatu yang saya lakukan selalu di ingatkan orang tua saya agar tidak melenceng dari isi al-quran sebagai pedoman hidup saya, dan segala sesuatu yang saya lakukan selalu di ajarkan untuk meniru sikap dan sifat rasulullah saw, karena orang tua saya beranggapan bahwa sebagai seorang muslimin dan mukminin, bukan hanya menjalankan kewajiban saya sebagai seorang mukmin dan muslimin,dan menjauhi segala larangan Allah SWT. Tapi lebih dari itu, bagi  orangtua saya, saya harus meneladani dan mengikuti apa yang di ajarkan rasulullah, karena rasulullah merupakan contoh tauladan bagi para umatnya. Dan saya yakin apabila saya meneladani dan mengamalkan sikap dan sifat rasulullah, baik dalam beribadah maupun dalam melakukan aktifitas sehari-hari, mungkin kita semua akan menjadi pribadi yang sidik, amanah, tabligh, dan fatonah apa bila hidup kita dilandasi dengan agama dan meneladani rasululah. Dan mungkin generasi bangsai ini akan menjadi generasi bangsa yang sangat baik, dan apabila sikap dan contoh dari rasululah di jadikan pondasi dalam hidup seseorang mungkin tidak ada lagi korupsi, pencurian dan pembunuhan di negeri ini, dan saya yakin negeri ini akan menjadi negeri yang sangat damai.

Peran orangtua pun saya rasakan sewaktu orangtua saya mengajarkan tata cara bersosialisasi, baik dalam bergaul terhadap sesama, dengan yang lebih muda, maupun dengan yang lebih tua, mereka pun mengajarkanbagaimana sikap dan perbuatan kita terhadap sebaya, atau yang lebih muda maupun yang lebih tua. Dan hal tersebut menjadi suatu bekal bagi saya dalam bersosialisasi di masyarakat.

 Orang tua saya pun mengajarkan kepada saya untuk selalu hemat dan tidak menghambur-hamburkan sesuatu, baik dalam bentuk uang, energi, barang, sumber daya alam, maupun yang lainnya, karena itu adalah sifat setan. hal tersebut sangat lah bermanfaat bagi saya, dan saya selalu ingat untuk tidak menghampur-hamburkan atau pun hura-hura, dan saya juga di ajarkan untuk berbagi kepada orang yang membutuhkan, karena rasulullah pun mengajarkan hal tersebut,

5.      Penerapan Pendidikan Agama Islam dalam Membangun Karakter Mulia padaAnak Usia Dini
Orang tua sebaiknya mulai membangun karakter anak sejak anak usia dini,karena proses tumbuh kembang anak secara jasmani dan rohani sangat baik. Apabilasejak usia dini karakter anak sudah dibangun, diharapkan mereka sudah memiliki pondasi atau dasar karakter yang kuat, sehingga pada perkembangan selanjutnyatinggal memupuk serta memperkaya perspektif karakter anak. Pembentukan karakteranak tentu saja didasari oleh faktor-faktor pendukung, misalnya tempramen dasar(dominan, intim, stabil dan cermat), keyakinan (apa yang dipercayai, paradikma), pendidikan (apa yang diketahui, wawasan anak), motivasi hidup (apa yang kita sakan,semangat hidup), perjalanan atau pengamalan, yaitu apa yang telah dialami oleh anak,masa lalu anak, pola asuh dan lingkungan di sekitar anak. Dan ada empat faktor yangmembawa keberhasilan dan harus ditanamkan pada anak, yakni empati yang berartimengasihi sesame seperti diri sendiri, tahan uji yakni tetap tabah dan mengambilhikmah kehidupan serta bersyukur dalam keadaan apapun, dan beriman kepada AllahSWT.Faktor-faktor di atas akan mengarahkan seseorang ke jalan keberhasilan.Empati menghsilkan hubungan yang baik, tahan uji akan melahirkan ketekunan dankualitas, beriman akan membuat segala sesuatu menjadi mungkin. Selanjutnya penerapan pendidikan agama Islam dalam membangun karakter mulia pada anak usiadini bisa dilakukan dengan cara mengajarkan sholat dan mengaji, mengajarkan sikapsaling menghormati, tidak memukul anak, mengajarkan anak untuk selalu mengucapkan salam, dan mengajarkan cara bertutur kata yang sopan.
1)      Mengajarkan sholat dan membaca ayat suci Al-Quran. Sholat danmembaca ayat suci Al-Quran merupakan hal yang wajib dilakukan semua umatmuslim. Apabila anak usia dini diajarkan sedikit demi sedikit dengan sholat danmengaji, maka sejak itu karakter dia akan mulai terbentuk. Karena sholat danmengaji di dapat menjadikan semua orang mempunyai sifat sabar, penyayang, tidakmudah tersulut emosi, dan mampu menjaga sikap buruk sehingga mengaplikasikannya ke dalam sikap yang terpuji. Apabila itu semua di ajarkan sejakdini, maka anak mulai terbiasa dengan sikap-sikap terpuji tersebut.
2)      Mengajarkan sikap saling menghormati. Untuk menciptakan katasaling, terkadang hampir semua orang merasa kesulitan. Agar terbiasa untukmenciptakan kata saling tersebut, maka tidak salahnya di ajarkan dalam keluarga.Orang tua bisa mengajarkan saling menghormati kepada dirinya sendiri kepada anakterlebih dahulu. Selanjutnya ketika anak bisa menghormati dirinya sendiri, maka dia juga akan bisa menghormati kedua orang tuanya bahkan masyarakat di sekitar dia.
3)      Tidak memukul anak. Sebaiknya bagi orang tua dalam membesarkananak tidak perlu dengan membentak atau memukul anak. Anak dalam usia dini harusdiajarkan sikap yang baik, karena penanaman sikap yang seperti itu akan selaludiingat dalam pemikiran anak hingga dia dewasa. Apabila anak dididik dengankekerasan misalkan membentaknya bahkan sampai memukul, maka itu semua akantersimpan dalam memorinya. Dia juga akan tumbuh dengan karakter yang angkuh,keras bahkan tempramen karena dia akan meniru apa yang diajarkan orang tuanyasejak dini.
4)      Mengajarkan anak selalu untuk mengucapkan salam. Mengucapkansalam merupakan adab yang baik sehingga mampu membentuk pribadi yang berakhlak baik dan berbudi pekerti. Sesuatu yang dibiasakan sejak kecil, insysAllahakan lebih tertanam kuat dalam diri seorang anak. Anak-anak tidak akan belajarkecuali dari apa yang mereka lihat dan mereka dengar dari orang tua. Ketika orangtua mengajarkan selalu mengucapkan salam ketika sedang bersilaturahmi atau masukdalam ruangan, maka anak tersebut akan menirunya. Karena dengan mengucapkansalam terdapat nilai yang positif untuk membentuk karakter anak
5)      Mengajarkan cara bertutur kata sopan. Bertutur kata yang baik harus dicontohkan kepada anak. Misalkan selalau mengucapkan tolong ketika sedang membutuhkan bantuan orang lain, selalu mengucapkan terimakasih setelah diamendapatkan sesuatu dari orang lain. Jangan mengajarkan anak untuk merengek atau menjerit atau memotong pembicaraan.

Ketika orang tua mengajarkan itu semua kepada anak sejak dini, maka nilai-nilai tersebut akan tertanam kuat pada diri anak.Karena sebagai seorang muslim perkataan wajib dijaga, jangan sampai perkataan kitasendiri dapat menyakiti hati orang lain.Faktor-faktor di atas merupakan faktor yang terdapat dalam sebuah agama.Dalam agama Islam mengajarkan bagi umatnya agar selalu bertingkah laku yang baik, misalnya bertingkah laku sopan, jujur, saling menghargai, dan lain sebagainya.Apabila anak sudah diajarkan pendidikan agama sejak dini, maka dia akan tumbuhdan berkembang menjadi seorang manusia yang berkarakter kuat dan berakhlakmulia.









BAB III
PENUTUP

A.               Kesimpulan

Keluarga merupakan suatu sistem sosial terkecil yang di dalamnya dapat terdiri dari Ayah, Ibu, dan anak yang masing-masing memiliki peran. Anak merupakan buah dari keluarga bahagia. Anak-anak memiliki pemikiran kritis akan banyak hal dimulai ketika ia mulai mengenal bahasa.
Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari mulut seorang anak sebaiknya dijawab dengan jawaban yang jujur dan dapat memuaskan hati anak. Pendidikan moral dan kejujuran bagi seorang anak berawal dari kelurga, melalui orang tua. Di mata anak, orang tua (ayah ibu) adalah figur atau contoh yang akan selalu ditiru oleh anak-anaknya. Oleh sebab itu, ayah ibu harus mampu memberi contoh yang baik pada anak-anaknya, memberi pengasuhan yang benar serta mencukupi kebutuhan-kebutuhannya dalam batasan yang wajar.
Dengan memainkan peranan yang benar dalam mendidik dan mengasuh anak, anak akan tumbuh dan berkembang secara optimal. Dan yang tidak kalah pentingnya, anak akan tumbuh menjadi anak yang berkarakter tidak mudah larut oleh budaya buruk dari luar serta menjadi anak yang berkepribadian baik sebagai aset generasi penerus bangsa di masa depan.






Daftar Pustaka


Tidak ada komentar:

Posting Komentar