ILMU SOSIAL DASAR
PERAN KELUARGA DALAM MEMBANGUN MANUSIA YANG BERKARAKTER
Nama :
Vina Isma Diana P
Kelas : 1TA03
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji
syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas
petunjuk dan bimbingan hidayah-Nya, makalah ini dapat saya selesaikan pada
waktunya.
Adapun tujuan penulisan
makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Ilmu Sosial Dasar.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak
terkait yang telah membantu saya dalam menghadapi berbagai tantangan dalam
penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini
masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran
untuk perbaikan dan penyempurnaan lebih lanjut.
Meskipun ini sifatnya hanya sederhana, semoga bisa
bermanfaat bagi para pembaca umumnya dan bagi penulis khususnya.
Jakarta, 06 November 2014
Vina Isma Diana P
Daftar Isi
Kata Pengantar………………………………………………………………………………….. i
Daftar isi………………………………………………………………………............………….. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang…………………………………………………………………................….. 1
B.
Rumusan Masalah…………………………………………………………………................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pertumbuhan
Anak………………………………………………………………...............… 2
B. Peran
orang tua dalam mendidik anak……………………………………………................... 2
C. Pengaruh
keluarga terhadap perkembangan moral anak…………………………..................... 3
D. Peran
keluarga…………………………………………………………………….................. 4
E. Penerapan
Pendidikan Agama Islam dalam Membangun Karakter Anak……………………..............................5
BAB III PENUTUP
Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………..… 8
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Anak merupakan kunci utama dalam menentukan
kemajuan suatu bangsa dimasa depan. Oleh karena itu keluarga merupakan hal
utama dalam menentukan dan mendukung kemajuan anak dimasa depan yang
berkarakter dan memiliki kepribadian baik.
Keluarga adalah lingkungan yang pertama dan utama dikenal
oleh anak. Oleh karena itu tidaklah dapat dipungkiri bahwa sebenarnya keluarga
mempunyai fungsi yang tidak hanya terbatas sebagai penerus keturunan saja.
Mengingat banyak hal-hal mengenai kepribadian seseorang yang dapat dirunut dari
keluarga.
Pengaruh globalisasi yang semakin meluas menyebabkan manusia
kehilangan jati dirinya. Arus globalisasi yang tak terkendali menyebabkan
dampak buruk yang harus ditelan oleh mentah-mentah oleh anak-anak. Seperti
halnya kekerasan, minuman keras, dll. Hal inilah yang harus menjadi tanggung
jawab keluarga untuk membimbing dan mengembalikan anak-anaknya kejalan yang
semestinya.
B.
Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang dibahas
dalam makalah ini sebagai berikut.
1. Apa saja yang berhubungan dengan
seorang anak?
2. Bagaimana peran keluarga dalam
mendidik anak?
3. Apakah pengaruh keluarga
terhadap perkembangan anak?
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pertumbuhan Anak
Sejak dilahirkan ke dunia setelah
bersemayam dalam kandungan selama 9 bulan 10 hari, anak memliki ciri khusus
yang membedakan dari orang dewasa, yakni terus tumbuh dan berkembang
(Sunartini, 2001: 1). Tumbuh kembang anak sebenarnya sudah dimulai sejak pembuahan
(konsepsi) sampai anak dewasa (kira-kira umur 21 tahun). Jadi tumbuh kembang
ini merupakan suatu proses yang panjang dari satu sel menjadi berjuta sel
manusia.
Pertumbuhan dan perkembangan anak secara prinsip dapat dibagi dalam 4 periode,
yaitu masa balita, pra sekolah, masa pertengahan kanak-kanak dan masa renaja.
(Herini Sarminto, 2004: 1).
Periode penting dalam tumbuh kembang
anak adalah masa balita, karena pada masa ini terjadi pertumnuhan dan
perkembangan dasar yang akan memperngaruhi perkembangan selanjutnya.
Pertumbuhan anak ditunjukkan dengan bertambahnya tinggi dan berat badan,
lingkar kepala, lingkar lengan atas, lingkar dada, dan sebagainya. Pertumbuhan
anak ditunjukkan dengan faktor gizi dan nutrisi. Sementara perkembangan anak
ditunjukkan dengan perkembangan psikomotor, perkembangan mental dan
intelektual, perkembangan sosial, kemampuan komunikasi, perilaku dan
perkembangan seksual. Perkembangan anak ini akan dipengaruhi oleh faktor bawaan
dan lingkungan (Hibana S. Rahman, 2002 :37).
2. Peran
orang tua dalam mendidik anak
Anak adalah individu yang unik. Banyak yang menagatkan bahwa anak adalah
miniatur dari orang dewasa. Padahal mereka betulbetul unik. Mereka belum banyak
memiliki sejarah masa lal. Pengalaman mereka sangat terbatas.
Di sinilah peran orang tua yang memiliki pengalaman hidup lebih banyak sangat
dibutuhkan membimbing dan mendidik anaknya. Apabila dikaitkan dengan hak-hak
anak, menurut Sri Sugiharti (2005 :1) tugas dan tanggung jawab orang tua antara
lain :
1. Sejak dilahirkan mengasuh dengan kasih sayang.
2. Memelihara kesehatan anak.
3. Memberi alat-alat permainan dan kesempatan bermain.
4. Menyekolahkan anak sesuia dengan keinginan anak.
5. Memberikan pendidikan dalam keluarga, sopan santun, sosial, mental dan juga
pendidikan keagamaan serta melindungi tindak kekerasan dari luar.
6. Memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan dan berpendapat sesuai dengan
usia anak.
Atas dasar itu orang tua yang bijaksana ankan mengajak anak sejak dini untuk
berinteraksi denagn lingkungan sekitar. Saat itulah pendidikan karakter
diberikan. Mengenal anak akan perbedaan di selilingnya dan diliatkan dalam
tanggung jawab hidup sehari-hari, merupakan sarana anak untuk belajar
menghargai perbedaan di sekelilingnya dan mengembangkan karakter di tengah
berkembangnya masyarakat. Pada tahap ini orang tua dapat mengajarkan
niali-nilai universal seperti cara menghargai orang lain, berbuat adil pada
diri sendiri dan orang lain, bersedia memanfaatkan orang lain.
Bapak ibu sebagai orang tua anak, adalah contph keteladanan dan perilaku bagi
anak. Oleh karena itu orang tua harus berperilaku baik, saling asih, asah dan
asuh. Ibu yang secara emosional dan kejiwaan lebih dekat dengan anaknya harus
mampu menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya baik dalam bertutur kata,
bersikap maupun bertindak. Peran ibu dalam pembentukan karakter ini demikian
besar, sehingga ada pepatah yang mengatakan bahwa “Wanita adalah tiang negara.
Manakala wanitanya baik maka baiklah negara. Manakala wanitanya rusak, maka
rusaklah negara”.
Sementara itu sang bapak sebagai kepala keluarga juga harus mampu menajdi
teladan yang baik. Karena ayah yang terlibat hubungan dengan anaknya sejak awal
akan mempengaruhi perkembangan kognitif, motorik, kemampuan, menolong diri sendiri,
bahkan meningkatkan kemampuan yang lebih baik dari anak lain. Kedekatan dengan
ayah tentunya juga akan mempengaruhi pembentukan karakter anak.
Begitu besarnya peran orang tua dalam pembentukan karakter dan tumbuh kembang
anak, sudah sewajarnya apabila orang tua perlu menerapkan pola asuh yang
seimbang (authoritative) pada anak, bukan pola asuh yang otoriter atau serba
membolehkan (permissive).
3.
Pengaruh Keluarga Terhadap Perkembangan Moral
Anak
Papalia dan Old (1987) dalam Hawadi (2001)
membagi masa kanak-kanak dalam lima tahap :
- Masa
Prenatal, yaitu diawali dari masa konsepsi sampai masa lahir.
- Masa
Bayi dan Tatih, yaitu saat usia 18 bulan pertama kehidupan merupakan masa
bayi, di atas usia 18 bulan pertama kehidupan merupakan masa bayi, di atas
usia 18 bulan sampai tiga tahun merupakan masa tatih. Saat tatih inilah,
anak-anak menuju pada penguasaan bahasa dan motorik serta kemandirian.
- Masa
kanak-kanak pertama, yaitu rentang usia 3-6 tahun, masa ini dikenal juga
dengan masa prasekolah.
- Masa kanak-kanak
kedua, yaitu usia 6-12 tahun, dikenal pula sebagai masa sekolah. Anak-anak
telah mampu menerima pendidikan formal dan menyerap berbagai hal yang ada
di lingkungannya.
- Masa
remaja, yaitu rentang usia 12-18 tahun. Saat anak mencari identitas dirinya
dan banyak menghabiskan waktunya dengan teman sebayanya serta berupaya
lepas dari kungkungan orang tua.
Anak-anak sering bertanya tentang banyak hal, baik yang
berhubungan dengan hal-hal yang faktual maupun yang fiktif.
Pertanyaan-pertanyaan ini, bagi anak-anak, merupakan ekspresi dari rasa ingin
tahu dan menyibak keraguannya, sehingga anak tersebut terdorong untuk
mengajukan pertanyaan. Hal ini merupakan kebutuhan psikis alamiah yang
dinamakan dengan istilah “cinta meneliti.”(Zurayk, 1997).
Penanaman moral pada diri seorang anak berawal dari
lingkungan keluarga. Pengaruh keluarga dalam penempaan karakter anak sangalah
besar. Dalam sebuah keluarga, seorang anak diasuh, diajarkan bebagai macam hal,
diberi pendidikan mengenai budi pekerti serta budaya. Setiap orang tua yang
memiliki anak tentunya ingin anaknya tumbuh dan berkembang menjadi manusia
cerdas yang memiliki budi pekerti baik agar dapat menjaga nama baik keluarga.
Anak bukan lah orang dewasa, ia memiliki sifat-sifat yang
khas. Seorang anak melihat, mendengar, berperasaan, dan berpikir dengan bentuk
yang khas, namun tidak keluar dari logika dan perasaan yang sehat. Misalnya,
anak-anak itu melihat, mendengar, dan berperasaan sebagaimana orang tua
melihat, mendengar, berperasaan, dan berpikir. Karena itu, orang tua seharusnya
mempergauli anak-anak berdasarkan pada anggapan bahwa dia adalah anak-anak.
Sebagaimana dikatakan, “Pemuda tidak akan menjadi pemuda yang sebenarnya selama
masa kanak-kanaknya tidak menjadi anak-anak yang sebenarnya”.
Keluarga memberikan pengaruh pada pembentukan budi luhur
bagi seorang anak. Salah satu ciri anak yang berbudi luhur adalah selalu
menunjukkan sikap sopan dan hormatnya pada orang tua. Budi luhur yang melekat
pada setiap orang bukan datang dengan sendirinya, melainkan harus diciptakan.
Terutama dalam keluarga dan bukan merupakan keturunan. Dengan kata lain, budi
luhur tidak merupakan keturunan melainkan merupakan produk pendidikan dalam
keluarga, merupakan perpaduan antara akal. Kehendak, dan rasa.
Pada masa sekarang, intensitas bertemu antara anak dengan
orang tua sangatlah sempit. Oleh karena itu, orang tua harus mampu membagi
waktu dengan baik dan mencari saat-saat yang tepat untuk menyelipkan pelajaran
mengenai budi pekerti luhur. Pada saat makan malam misalnya, atau pada saat
menonton televisi bersama, sambil membimbing.
4. Peran
keluarga
Peran
orang tua sangat lah pentinng dalam membentuk kepribadian seorang anak, karena
dari didikan orangtua lah yang membuat kita bisa menjadi seperti ini. Orang tua
juga sangatlah penting dalam membentuk pondasi dari kepribadian seorang anak,
saya sebagai seorang anak pun sangatlah merasakan peranan dari orang tuadalam
membentuk kepribadian diri saya, apa saja yang saya lakukan baik sikap maupun
kepribadian saya, sedikit banyak mengikuti sifat dari orangtua saya, terutama
hal yang sangat mereka tekankanpada saya, sejak saya kecil hingga sekarang ini.
Sejak
kecil, orang tua saya sudah menanamkan nilai-nilai moral, keagamaan, tata
krama, sopan santun, dan lain-lain. Di dalam materi kali ini saya akan
menceritakan beberapa hal peranan orang tua yang saya rasakan selama ini.
Peran
orangtua untuk mengajarkan keagamaan, mungkin inilah yang sangat penting yang
di tekankan oleh orang tua saya, karena kedua orang tua saya penganut agama
islam, jadi erat bersandar pada al-quran dan sunnah rasulullah. Segala sesuatu
yang saya lakukan selalu di ingatkan orang tua saya agar tidak melenceng dari
isi al-quran sebagai pedoman hidup saya, dan segala sesuatu yang saya lakukan
selalu di ajarkan untuk meniru sikap dan sifat rasulullah saw, karena orang tua
saya beranggapan bahwa sebagai seorang muslimin dan mukminin, bukan hanya
menjalankan kewajiban saya sebagai seorang mukmin dan muslimin,dan menjauhi
segala larangan Allah SWT. Tapi lebih dari itu, bagi orangtua saya, saya
harus meneladani dan mengikuti apa yang di ajarkan rasulullah, karena
rasulullah merupakan contoh tauladan bagi para umatnya. Dan saya yakin apabila
saya meneladani dan mengamalkan sikap dan sifat rasulullah, baik dalam
beribadah maupun dalam melakukan aktifitas sehari-hari, mungkin kita semua akan
menjadi pribadi yang sidik, amanah, tabligh, dan fatonah apa bila hidup kita
dilandasi dengan agama dan meneladani rasululah. Dan mungkin generasi bangsai
ini akan menjadi generasi bangsa yang sangat baik, dan apabila sikap dan contoh
dari rasululah di jadikan pondasi dalam hidup seseorang mungkin tidak ada lagi
korupsi, pencurian dan pembunuhan di negeri ini, dan saya yakin negeri ini akan
menjadi negeri yang sangat damai.
Peran
orangtua pun saya rasakan sewaktu orangtua saya mengajarkan tata cara
bersosialisasi, baik dalam bergaul terhadap sesama, dengan yang lebih muda,
maupun dengan yang lebih tua, mereka pun mengajarkanbagaimana sikap dan
perbuatan kita terhadap sebaya, atau yang lebih muda maupun yang lebih tua. Dan
hal tersebut menjadi suatu bekal bagi saya dalam bersosialisasi di masyarakat.
Orang
tua saya pun mengajarkan kepada saya untuk selalu hemat dan tidak
menghambur-hamburkan sesuatu, baik dalam bentuk uang, energi, barang, sumber
daya alam, maupun yang lainnya, karena itu adalah sifat setan. hal tersebut
sangat lah bermanfaat bagi saya, dan saya selalu ingat untuk tidak
menghampur-hamburkan atau pun hura-hura, dan saya juga di ajarkan untuk berbagi
kepada orang yang membutuhkan, karena rasulullah pun mengajarkan hal tersebut,
5. Penerapan Pendidikan Agama
Islam dalam Membangun Karakter Mulia padaAnak Usia Dini
Orang tua sebaiknya mulai
membangun karakter anak sejak anak usia dini,karena proses tumbuh kembang anak
secara jasmani dan rohani sangat baik. Apabilasejak usia dini karakter anak
sudah dibangun, diharapkan mereka sudah
memiliki pondasi atau dasar karakter yang kuat, sehingga pada perkembangan selanjutnyatinggal
memupuk serta memperkaya perspektif karakter anak. Pembentukan karakteranak
tentu saja didasari oleh faktor-faktor pendukung,
misalnya tempramen dasar(dominan, intim, stabil dan cermat), keyakinan
(apa yang dipercayai, paradikma), pendidikan (apa yang
diketahui, wawasan anak), motivasi hidup (apa yang kita
sakan,semangat hidup), perjalanan atau pengamalan, yaitu apa yang telah dialami
oleh anak,masa lalu anak, pola asuh dan lingkungan di sekitar anak. Dan ada
empat faktor yangmembawa keberhasilan dan harus ditanamkan pada anak, yakni
empati yang berartimengasihi sesame seperti diri sendiri, tahan uji yakni tetap
tabah dan mengambilhikmah kehidupan serta bersyukur dalam keadaan apapun, dan
beriman kepada AllahSWT.Faktor-faktor di atas akan mengarahkan seseorang ke
jalan keberhasilan.Empati menghsilkan hubungan yang baik, tahan uji akan
melahirkan ketekunan dankualitas, beriman akan membuat segala sesuatu menjadi
mungkin. Selanjutnya penerapan pendidikan agama Islam dalam membangun
karakter mulia pada anak usiadini bisa dilakukan dengan cara mengajarkan sholat
dan mengaji, mengajarkan sikapsaling menghormati, tidak memukul anak,
mengajarkan anak untuk selalu mengucapkan salam, dan mengajarkan cara bertutur
kata yang sopan.
1)
Mengajarkan
sholat dan membaca ayat suci Al-Quran. Sholat danmembaca ayat suci Al-Quran
merupakan hal yang wajib dilakukan semua umatmuslim. Apabila anak usia dini
diajarkan sedikit demi sedikit dengan sholat danmengaji, maka sejak itu
karakter dia akan mulai terbentuk. Karena sholat danmengaji di dapat menjadikan
semua orang mempunyai sifat sabar, penyayang, tidakmudah tersulut emosi, dan
mampu menjaga sikap buruk sehingga mengaplikasikannya ke dalam sikap yang
terpuji. Apabila itu semua di ajarkan sejakdini, maka anak mulai terbiasa
dengan sikap-sikap terpuji tersebut.
2)
Mengajarkan
sikap saling menghormati. Untuk menciptakan katasaling, terkadang hampir semua
orang merasa kesulitan. Agar terbiasa untukmenciptakan kata saling tersebut,
maka tidak salahnya di ajarkan dalam keluarga.Orang tua bisa mengajarkan saling
menghormati kepada dirinya sendiri kepada anakterlebih dahulu. Selanjutnya
ketika anak bisa menghormati dirinya sendiri, maka dia juga akan bisa
menghormati kedua orang tuanya bahkan masyarakat di sekitar dia.
3)
Tidak
memukul anak. Sebaiknya bagi orang tua dalam membesarkananak tidak perlu dengan
membentak atau memukul anak. Anak dalam usia dini harusdiajarkan sikap yang
baik, karena penanaman sikap yang seperti itu akan selaludiingat dalam
pemikiran anak hingga dia dewasa. Apabila anak dididik dengankekerasan misalkan
membentaknya bahkan sampai memukul, maka itu semua akantersimpan dalam
memorinya. Dia juga akan tumbuh dengan karakter yang angkuh,keras bahkan
tempramen karena dia akan meniru apa yang diajarkan orang tuanyasejak dini.
4)
Mengajarkan
anak selalu untuk mengucapkan salam. Mengucapkansalam merupakan adab yang baik
sehingga mampu membentuk pribadi
yang berakhlak baik dan berbudi pekerti.
Sesuatu yang dibiasakan sejak kecil, insysAllahakan lebih
tertanam kuat dalam diri seorang anak. Anak-anak tidak akan belajarkecuali dari
apa yang mereka lihat dan mereka dengar dari orang tua. Ketika orangtua
mengajarkan selalu mengucapkan salam ketika sedang bersilaturahmi atau
masukdalam ruangan, maka anak tersebut akan menirunya. Karena dengan
mengucapkansalam terdapat nilai yang positif untuk membentuk karakter anak
5)
Mengajarkan
cara bertutur kata sopan. Bertutur kata yang baik harus dicontohkan kepada
anak. Misalkan selalau mengucapkan tolong ketika sedang membutuhkan bantuan
orang lain, selalu mengucapkan terimakasih setelah diamendapatkan sesuatu dari
orang lain. Jangan mengajarkan anak untuk merengek atau menjerit atau memotong
pembicaraan.
Ketika orang tua mengajarkan itu semua kepada anak sejak dini, maka
nilai-nilai tersebut akan tertanam kuat pada diri anak.Karena sebagai seorang
muslim perkataan wajib dijaga, jangan sampai perkataan kitasendiri dapat
menyakiti hati orang lain.Faktor-faktor di atas merupakan faktor yang terdapat
dalam sebuah agama.Dalam agama Islam mengajarkan bagi umatnya agar selalu
bertingkah laku yang baik, misalnya bertingkah laku sopan,
jujur, saling menghargai, dan lain sebagainya.Apabila anak sudah
diajarkan pendidikan agama sejak dini, maka dia akan tumbuhdan berkembang
menjadi seorang manusia yang berkarakter kuat dan berakhlakmulia.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Keluarga merupakan suatu sistem
sosial terkecil yang di dalamnya dapat terdiri dari Ayah, Ibu, dan anak yang
masing-masing memiliki peran. Anak merupakan buah dari keluarga bahagia.
Anak-anak memiliki pemikiran kritis akan banyak hal dimulai ketika ia mulai
mengenal bahasa.
Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari mulut seorang anak
sebaiknya dijawab dengan jawaban yang jujur dan dapat memuaskan hati anak.
Pendidikan moral dan kejujuran bagi seorang anak berawal dari kelurga, melalui
orang tua. Di mata anak, orang tua (ayah ibu) adalah figur atau contoh yang
akan selalu ditiru oleh anak-anaknya. Oleh sebab itu, ayah ibu harus mampu
memberi contoh yang baik pada anak-anaknya, memberi pengasuhan yang benar serta
mencukupi kebutuhan-kebutuhannya dalam batasan yang wajar.
Dengan memainkan peranan yang benar dalam mendidik dan mengasuh anak, anak akan
tumbuh dan berkembang secara optimal. Dan yang tidak kalah pentingnya, anak
akan tumbuh menjadi anak yang berkarakter tidak mudah larut oleh budaya buruk
dari luar serta menjadi anak yang berkepribadian baik sebagai aset generasi
penerus bangsa di masa depan.
Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar